Rekam Jejak Pribadi Jokowi...Mana rekam jejak yg lainnya....
Rekam Jejak Pribadi Jokowi
Ketika 2014 Jokowi resmi dicalonkan sebagai Presiden oleh PDIP reaksi media massa internasional sangat positif. Bloomberg merupakan contain provider di bidang keuangan dan diakses oleh seluruh Fund Manager didunia menulis bahwa Pasar menyukai Jokowi.
Kebijakannya membangun fasilitas umum dan infrastruktur mendorong IHSG menguat. Saham Bank-Bank lokal terkerek naik. Bank Mandiri sahamnya naik 9,1 persen. Bank BRI naik 11 persen. Bloomberg mengutip Khoon Goh, senior foreign-exchange strategist di Australia & New Zealand Banking Group Ltd. in Singapore, menyebut Jokowi sebagai 'Mr. Fix It'.
Begitu pula Reuters yang juga merupakan portal Keuangan paling tinggi kredibilitasnya menulis bahwa pencalonan Jokowi datang dengan harapan besar bisa memimpin negara terbesar di Asia Tenggara yang selama ini dipimpin dengan kebijakan yang membingungkan dan kepemimpinan yang lemah.
"Dia wajah baru di politik Indonesia. Dan dia menyegarkan," kata Robert Prior-Wandesforde, ekonom Credit Suisse di Singapore. Bagaimana pendapat dari media politik dan sosial? Washington Post menulis bahwa Jokowi populer di kalangan rakyat miskin dan memiliki rekam jejak yang bersih.
Dan terakhir yang cukup fenomenal adalah ungkapan dari Sidney Morning Herald bahwa Setelah Jokowi resmi menyalonkan diri maju dalam perebutan kursi presiden, dia bisa mengubah pilihan 23 juta warga yang memiliki hak pilih untuk ikut memilih ( tidak golput). Semua media massa itu tidak ada afiliasi dengan politik.
Majalah Fortune mengeluarkan daftar 50 pemimpin paling hebat di dunia. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ada dalam daftar tersebut, menempati posisi nomor 37. Malah Presiden Amerika Serikat Barack Obama gagal masuk dalam list tersebut. Majalah Fortune menilai Obama kalah bersaing dengan para tokoh lainnya.
Uniknya Kantor Berita Inggris BBC pernah menyebut Jokowi sebagai Obama dari Jakarta dengan menulis bahwa Mr Widodo adalah politikus yang bersih. Seorang pemimpin yang mendengarkan keluhan masyarakat. Dia kerap disamakan dengan Presiden AS Barack Obama, bukan karena perawakannya yang sama-sama tinggi dan langsing. tetapi karena empatinya pada masyarakat.
Dengan begitu banyaknya hujan pujian dari masyarakat internasional, lantas apa kata Jokowi? Dia hanya menjawab singkat bahwa dia bukanlah sekelas Obama. Dia hanyalah orang sederhana. Jokowi tidak pernah berusaha menampilkan profile kehebatannya dalam media cetak /TV/youtube seperti yang dilakukan Prabowo dan capres lainnya.
Walau dia penguasa Jakarta tidak ada satu pun baleho atau poster besar yang menampilkan fotonya di jalan protokol Jakarta. Beda dengan pemimpin kota/daerah lainnya yang berusaha memenuhi kotanya dengan foto wajahnya di mana-mana.
Jokowi berusaha menghindari dari liputan media massa namun dia tidak bisa melarang media massa untuk meliputnya. Karena UU pers memberikan hak kepada wartawan untuk meliput.
Wartawan meliput kegiatannya karena memang rating pembaca berita tentangnya tinggi sekali. Dan wartawan wajib memenuhi permintaan pembacanya atau dia akan ditinggalkan oleh pembaca.
Sebanyak pujian, sehebat pujian tidak membuat Jokowi menjadi tinggi hati. Dia tidak merasa kecil bila harus naik pesawat kelas ekonomi dan membawa sendiri travalling bag nya. Diapun tidak merasa kecil bila dihujat oleh lawan politiknya dengan kata yang tidak santun.
Fitnah tentang Jokowi bertebaran di media massa. Dia tak ingin hujatan dibalas dengan hujatan. Fitnah dibalas dengan fitnah. Dia lebih memilih tidak melayani kampanye dengan cara seperti itu.
Selama Jokowi berkuasa di Jakarta dan Solo, tidak pernah dia jauh dari rakyat. Hampir setiap hari dia mendatangi rakyat, mendengar keluhan rakyat. Hal seperti ini tidak mudah. Siapapun boleh ngomong bahwa ini pencitraan, useless tapi tidak ada satu pun pemimpin di Indonesia yang mampu melakukan seperti yang Jokowi lakukan.
Semakin Jokowi dihujat, didiskreditkan, difitnah semakin dia mendapat tempat di hati rakyat tertindas. Mengapa? Karena kita yang masuk kelompok menengah ini, baik itu pemuka agama, cendekiawan, pengamat, politisi, pengusaha, tidak pernah mau dekat kepada rakyat tertindas.
Kita tidak punya reputasi lagi di hadapan rakyat tertindas karena mereka sudah terlalu lama menderita dan kita asyik dengan diri kita sendiri. Ketidaksukaan kita apa pun dalilnya kepada Jokowi akan membuat ia semakin mendapat simpati dari rakyat tertindas.
Kebencian kelompok menengah inilah yang dipakai oleh kader Marhaen di akar rumput untuk menarik simpati rakyat tertindas. *** DDB
#JokowiLagi
Ketika 2014 Jokowi resmi dicalonkan sebagai Presiden oleh PDIP reaksi media massa internasional sangat positif. Bloomberg merupakan contain provider di bidang keuangan dan diakses oleh seluruh Fund Manager didunia menulis bahwa Pasar menyukai Jokowi.
Panglima Tertinggi TNI Joko Widodo..
Kebijakannya membangun fasilitas umum dan infrastruktur mendorong IHSG menguat. Saham Bank-Bank lokal terkerek naik. Bank Mandiri sahamnya naik 9,1 persen. Bank BRI naik 11 persen. Bloomberg mengutip Khoon Goh, senior foreign-exchange strategist di Australia & New Zealand Banking Group Ltd. in Singapore, menyebut Jokowi sebagai 'Mr. Fix It'.
Begitu pula Reuters yang juga merupakan portal Keuangan paling tinggi kredibilitasnya menulis bahwa pencalonan Jokowi datang dengan harapan besar bisa memimpin negara terbesar di Asia Tenggara yang selama ini dipimpin dengan kebijakan yang membingungkan dan kepemimpinan yang lemah.
"Dia wajah baru di politik Indonesia. Dan dia menyegarkan," kata Robert Prior-Wandesforde, ekonom Credit Suisse di Singapore. Bagaimana pendapat dari media politik dan sosial? Washington Post menulis bahwa Jokowi populer di kalangan rakyat miskin dan memiliki rekam jejak yang bersih.
Sang RI-1
Dan terakhir yang cukup fenomenal adalah ungkapan dari Sidney Morning Herald bahwa Setelah Jokowi resmi menyalonkan diri maju dalam perebutan kursi presiden, dia bisa mengubah pilihan 23 juta warga yang memiliki hak pilih untuk ikut memilih ( tidak golput). Semua media massa itu tidak ada afiliasi dengan politik.
Majalah Fortune mengeluarkan daftar 50 pemimpin paling hebat di dunia. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ada dalam daftar tersebut, menempati posisi nomor 37. Malah Presiden Amerika Serikat Barack Obama gagal masuk dalam list tersebut. Majalah Fortune menilai Obama kalah bersaing dengan para tokoh lainnya.
Uniknya Kantor Berita Inggris BBC pernah menyebut Jokowi sebagai Obama dari Jakarta dengan menulis bahwa Mr Widodo adalah politikus yang bersih. Seorang pemimpin yang mendengarkan keluhan masyarakat. Dia kerap disamakan dengan Presiden AS Barack Obama, bukan karena perawakannya yang sama-sama tinggi dan langsing. tetapi karena empatinya pada masyarakat.
Dengan begitu banyaknya hujan pujian dari masyarakat internasional, lantas apa kata Jokowi? Dia hanya menjawab singkat bahwa dia bukanlah sekelas Obama. Dia hanyalah orang sederhana. Jokowi tidak pernah berusaha menampilkan profile kehebatannya dalam media cetak /TV/youtube seperti yang dilakukan Prabowo dan capres lainnya.
Walau dia penguasa Jakarta tidak ada satu pun baleho atau poster besar yang menampilkan fotonya di jalan protokol Jakarta. Beda dengan pemimpin kota/daerah lainnya yang berusaha memenuhi kotanya dengan foto wajahnya di mana-mana.
Jokowi berusaha menghindari dari liputan media massa namun dia tidak bisa melarang media massa untuk meliputnya. Karena UU pers memberikan hak kepada wartawan untuk meliput.
Wartawan meliput kegiatannya karena memang rating pembaca berita tentangnya tinggi sekali. Dan wartawan wajib memenuhi permintaan pembacanya atau dia akan ditinggalkan oleh pembaca.
Sebanyak pujian, sehebat pujian tidak membuat Jokowi menjadi tinggi hati. Dia tidak merasa kecil bila harus naik pesawat kelas ekonomi dan membawa sendiri travalling bag nya. Diapun tidak merasa kecil bila dihujat oleh lawan politiknya dengan kata yang tidak santun.
Fitnah tentang Jokowi bertebaran di media massa. Dia tak ingin hujatan dibalas dengan hujatan. Fitnah dibalas dengan fitnah. Dia lebih memilih tidak melayani kampanye dengan cara seperti itu.
Selama Jokowi berkuasa di Jakarta dan Solo, tidak pernah dia jauh dari rakyat. Hampir setiap hari dia mendatangi rakyat, mendengar keluhan rakyat. Hal seperti ini tidak mudah. Siapapun boleh ngomong bahwa ini pencitraan, useless tapi tidak ada satu pun pemimpin di Indonesia yang mampu melakukan seperti yang Jokowi lakukan.
Semakin Jokowi dihujat, didiskreditkan, difitnah semakin dia mendapat tempat di hati rakyat tertindas. Mengapa? Karena kita yang masuk kelompok menengah ini, baik itu pemuka agama, cendekiawan, pengamat, politisi, pengusaha, tidak pernah mau dekat kepada rakyat tertindas.
Kita tidak punya reputasi lagi di hadapan rakyat tertindas karena mereka sudah terlalu lama menderita dan kita asyik dengan diri kita sendiri. Ketidaksukaan kita apa pun dalilnya kepada Jokowi akan membuat ia semakin mendapat simpati dari rakyat tertindas.
Kebencian kelompok menengah inilah yang dipakai oleh kader Marhaen di akar rumput untuk menarik simpati rakyat tertindas. *** DDB
#JokowiLagi



























